Senin, 22 April 2019

Membangun Komitmen Warga Nahdlatul Ulama (NU)


Membangun Komitmen Warga Nahdlatul Ulama (NU)
Oleh: Ahmad Gojin
(Ketua Tanfidz MWC Nahdlatul Ulama Cibiru)
(04 Februari 2019)
 

 Rasulullah SAW. bersabda: “Doa mustajab (dikabulkan) ketika berkumpul (ijtima) kaum muslimin” (Hadis).
            Untuk membangun komitmen jamiyah (organisasi), jamaah (warga), dan kader Nahdlatul Ulama (NU), maka diperlukan empat (4) pondasi yang kokoh dan konsisten (istiqomah), yaitu: Amaliyah, Fikroh, harokah, dan Ghiroh.
            Pertama, Amaliyah, yakni mengamalkan tradiri-tradisi NU, seperti tawasul, tahlil, qunut, istighosah, shalawat, dan lain-lain.
            Kedua, Fikroh, yakni paradigma berpikir NU, seperti tawasut (moderat), tawazun (pertengah), dan tasamuh (toleran).
            Ketiga, Harokah, yakni gerakan NU, seperti tolong-menolong (gotong royong, kebersamaan, peduli terhadap sesama, dan lain-lain.
            Keempat, Ghiroh, yakni semangat menegakan ajaran Ahlus Sunah wal Jamaah, walaupun harus menghadapi berbagai rintangan dan tantangan yang berat, seperti fitnah, hinaan, dan lain-lain.
 


Jumat, 15 Juli 2016

Memelihara Fitrah Diri



Memelihara Fitrah Diri
Oleh: Drs. AHMAD GOJIN, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan Sekolah Tingggi Ilmu Dakwah (STID) Ciamis-Jawa Barat)

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fithrah Allah yang telah menciptkan fithrah manusia menurut fithrah itu. Tidak ada perubahan pada fithrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. al-Ruum (30): 30).
Di negara kita (Indonesia), hari Raya Idul Fithri merupakan puncak pengalaman hidup spiritual dan sekaligus sosial keagamaan. Dan dapat pula dikatakan bahwa seluruh kegiatan masyarakat selama satu tahun diarahkan untuk dapat merayakan hari besar itu dengan tradisinya masing-masing. Mereka bekerja dan mengumpulkan atau menabung untuk merayakan dan  menikmati Idul Fithri tersebut. Hari raya yang juga disebut lebaran itu hampir sama dengan perayaan Thanks Giving Day di Amerika Serikat sana. Pada saat rakyat negeri tersebut bersuka-ria dengan bersyukur kepada Tuhan bersama seluruh keluarganya. Hilir-mudik lebaran rakyat Indonesia juga mirip dengan yang dilakukan orang-orang Amerika menjelang Thanks Giving Day itu. Semuanya merasakan dorongan amat kuat untuk bertemu orangtua, keluarga dan sanak saudara, karena justru dalam suasana keakraban kekeluargaan itu hikmah Idul Fithri atau Thanks Giving Day dapat dirasakan sepenuh-penuhnya. Sebagai hari raya keagamaan, Idul Fithri intinya adalah makna keruhanian. Tapi karena dimensi sosialnya sedemikian besarnya, khususnya dimensi kekeluargaannya, maka Idul Fithri juga memiliki makna sosial yang amat besar. Dan juga dilihat dari segi bagaimana orang bekerja dan menabung untuk berlebaran, Idul Fithri juga mempunyai makna ekonomis yang besar sekali bagi masyarakat Indonesia. Cukup sebagai indikasi tentang hal itu ialah bagaimana daerah-­daerah tertentu memperoleh limpahan ekonomi dan keuangan dari para pemudik, sehingga pemerintah daerah bersangkutan merasa perlu menyambut dan mengelu-elukan kedatangan warganya yang bekerja di dalam dan luar negeri.
Makna keruhanian Idul Fithri dapat dipahami dengan baik jika kita dapat melihatnya dari sudut pandang keagamaan yang melatarbelakanginya. Seperti halnya dengan semua pranata keagamaan, Idul Fithri berkaitan langsung dengan ajaran dasar Islam. Karena itu makna Idul Fithri merupakan rangkuman nilai-nilai Islam dalam sebuah kapsul kecil, dengan muatan simbolik yang sangat sentral. Mayoritas umat Islam mengartikan Idul Fithri dengan arti "kembali menjadi suci ", pendapat ini didasari oleh sebuah hadits Rasullullah SAW: “Barang siapa yang melaksanakan ibadah shaum selama satu bulan dengan penuh keimanan kepada Allah SWT maka apabila ia memasuki Idul Fithri ia akan kembali menjadi Fithrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya " (HR Bukhari).
Makna asal kata-kata "fithri" kiranya sudah jelas, karena satu akar dengan kata "fitrah" (fithrah), yang artinya "Pencipta" atau "Ciptaan". Secara kebahasaan, fithrah mempunyai pengertian yang sama dengan khilqah, yaitu "ciptaan" atau "penciptaan". Oleh sebab, segenap kehidupan manusia, seperti makan, minum, tidur, dan aktivitas apa pun yang sifat wajar, dengan tidak berlebihan atau melewati batas, adalah fitrah. Semuanya itu bernilai kebaikan dan kesucian, karena semuanya berasal dari desain Allah. Karena itu berbuka puasa atau kembali makan dan minum disebut ifthar, yang secara harfiah dapat diartikan "memenuhi fitrah" yang suci dan baik. Dengan perkataan lain, makan dan minum adalah baik dan wajar pada manusia, merupakan bagian dari fithrahnya yang suci. Dari sudut pandang ini kita mengerti mengapa Islam tidak membenarkan usaha menempuh hidup suci dengan meninggalkan hal-hal yang wajar pada manusia seperti makan, minum, tidur, menikah, bekerja dan seterusnya. Berkenaan dengan ini Nabi Saw pernah memberi peringatan keras kepada salah seorang sahabat beliau, bernama Utsman ibn Mazh'um, yang ingin menempuh hidup suci dengan melakukan semacam “pertapaan”. Nabi juga melarang keras pikiran sementara sahabat beliau yang ingin menempuh hidup tidak menikah seumur hidup. Karena semuanya itu tindakan yang menyalahi fithrah, jadi juga tidak sejalan dengan sunnah. Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam hari raya Idul Fithri mengandung makna kembali kepada hakikat yang wajar dari manusia dan kemanusiaan. Kewajaran itu adalah pemenuhan keperluan untuk makan dan minum sehingga makna sederhana Idul Fithri dapat diartikan "Hari Raya Makan dan Minum" setelah berpuasa sebulan. Selain itu, Idul Fithri merupakan ajaran dasar agama Islam, yakni manusia diciptakan Allah dalam fitrah kesucian dengan adanya ikatan perjanjian antara Allah dan manusia sebelum manusia itu lahir ke bumi.
Makna idul fitri secara garis besarnya mengandung tiga arti penting, yaitu:
 Pertama, Hari Asal Kejadian Manusia.
Orang yang idul fitri bagaikan manusia yang lahir kedunia ini dalam keadaan suci dan bersih. Artinya manusia lahir tanpa membawa dosa apapun, sekalipun anak dari hasil jinah, yang berdosa adalah kedua orang tuanya.
Kedua, Hari untuk Makan, Minum dan Bergembira.
Pada perayaan idul fitri (tanggal 1 Syawal) merupakan hari diperintahkannya berbuka (tidak berpuasa) dengan melaksanakan makan, minum dan bergembira bagi umat Islam (yaum ukli wa syurbi wa jahbati lil muslimin) karena pada hari diharamkan untuk berpuasa.
Ketiga, Hari Kemenangan.
Kemenangan bagi segenap umat Islam, karena mereka telah berjihad (perang) melawan hawa nafsunya selama satu bulan penuh. Maka pada saat idul fitri mereka merayaan kemenangan tersebut dengan penuh rasa kegembiraan.
Dengan demikian, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh kita dalam rangka memelihara dan menjaga kesucian (fitrah) diri tersebut, yaitu:
Pertama, Ihsan, yakni senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah SWT. dalam setiap gerak dan langkah kehidupannya. Ihsan adalah lawan dari sayyiah (berbuat kejelekan), yaitu seorang manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya. Ihsan terbagi menjadi dua macam, yaitu ihsan di dalam beribadah kepada Sang Pencipta (Al-Khaliq) dan Ihsan kepada makhluk ciptaan Allah.
Kedua, Bersyukur atas berbagai nikmat, yakni berterima kasih, senang dan menyebut nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya baik dengan lisan, hati maupun perbuatan. Dengan begitunya banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada manusia, sehingga mereka tidak akan mampu menghitung atas nikmat-nikmat itu. Dan apabila manusia bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, maka Allah akan menambahnya nikmat tersebut, sedangkan apabila manusia mengingkarinya maka Allah akan mengancamnya dengan siksaan yang pedih (lihat QS. Ibrahim: 7).
Ketiga, Istiqamah, yakni konsisten dalam menempuh jalan Islam yang lurus (benar) dalam keyakinan (keimanan) dan kebenaran (haq) dengan tidak berpaling dari keyakinan dan kebenaran tersebut. Istiqomah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk  ketaatan (kepada Allah) lahir dan batin serta meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Sebab ketika seorang muslim dalam menegakkan keyakinan dan kebenaran sudah pasti akan menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, seperti ejekan, hinaan, kebencian dan lain-lain dari orang lain, namun orang muslim yang istiqamah tidak akan berubah  dan tidak akan goyah, baik sikap, pikiran dan i’tikadnya dengan berbagai tantangan dan rintangan yang dihadapinya, malahan semakin kuat dan tangguh dalam menegakkan keyakinan dan kebenarannya itu.
Wa-Allahu ‘Alam.

Rabu, 22 Juni 2016

Tadabbur Al-Quran



Tadabbur Al-Quran
Oleh: Drs. Ahmad Gojin, M.Ag
(Dosen UIN Bandung dan Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Ciamis-Jabar)

Salah satu momentum penting yang terjadi di bulan Ramadhan adalah peristiwa diturunkannya al-Qur’an. Mengingat pentingnya peristiwa tersebut, maka sebagian masyarakat kita (di tanah air) secara rutin untuk memperingatinya pada bulan ramadlan. Hari peringatan itu, dikenal dengan “Nuzul al-Quran” yang biasanya jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.
Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW untuk dijadikan petunjuk kepada umat manusia. Permulaan turunnya Al-Qur’an itu pada malam Lailatul Qadar, melalui perantara malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga dengan risalah tersebut, umat Nabi Muhammad dapat dikatakan sebagai sebaik-baiknya umat. Dan al-Qur’an diturunkan melalui dua proses, yaitu pertama, diturunkan sekaligus dan kedua diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah SAW, selama 23 tahun.
Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pentunjuk dan pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep-konsep yang dibawa al-Quran selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problema tersebut di manapun mereka berada.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mencoba mengajak kepada para pembaca untuk mengkaji tentang tadabur terhadap isi kandungan al-Quran. Karena tadabur terhadap al-Quran merupakan perintah Allah dalam al-Quran (QS. An-Nisa: 82, QS. Muhamad: 24). Selain itu, penulis teringat ungkapan Fathuddin Ja’far sebagai berikut: seindah apapun susunan ayat-ayat al-Qur’an, seilmiah apapun kandungan al-Qur’an dan sehebat apapun mukjizat al-Qur’an, tanpa tadabbur terhadap ayat-ayatnya, maka kita akan sulit memahami dan menerima pesan-pesannya untuk diimplementasikan dalam kehidupan. Sedangkan keimanan (keyakinan) kita pada al-Qur’an tidak akan bermanfaat, jika al-Qur’an itu tidak diamalkan dalam kehidupan di dunia ini. Dan tanpa petunjuk, cahaya, peringatan, furqan dan ruh (spirit)  al-Qur’an, kita akan tersesat dan hina dalam kehidupan di dunia ini, demikian juga dalam kehidupan akhirat nanti.
Pengertian Tadabbur Al-Quran
Kata tadabbur dapat diartikan sebagai memperhatikan, memahami dan merenungkan makna-makna teks. Dengan demikian, tadabbur Al-Quran berarti memperhatikan, memahami dan merenungkan, dan pengamalan makna, hikmah, dan maksud dari isi kandungan al-Quran.
Al-Alusi (ahli tafsir zaman klasik) dalam tafsirnya Ruh al-Ma’ani menjelaskan bahwa pada dasarnya tadabbur itu berarti memikirkan secara mendalam kesudahan sesuatu urusan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya.
Ibnu al-Qayyim juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tadabbur adalah suatu perkataan adalah melihat dan memperhatikan perkataan itu dari awal dan akhir perkataan kemudian mengulangnya.
Al-Maidani mengatakan:
“التدبر هو: التفكر الشامل الواصل إلى أواخر دلالات الكلم ومراميه البعيدة “
Dan dalam tadabbur al-Qur`an itu mesti memiliki tujuan untuk mengambil manfaat dan mengikuti apa yang terkandung dalam al-Qur`an itu, karena tujuan dari membaca dan mentadaburi ayat-ayat al-Qur`an itu adalah untuk mengamalkan dan berpegang pada isi kandungannya. Dan juga penting untuk disampaikan disini bahwa dalam tadabur harus dilakukan kombinasi antara akal dan hati manusia dalam memahami, menghayati dan memikirkan setiap kata, kalimat dan ayat yang ada dalam al-Qur’an.
Syaikh Abdurrahman Habannakah menegaskan bahwa tujuan tadabur bukanlah sekedar kemewahan ilmu, atau bangga dengan pencapaian pengetahuan, atau mampu untuk mengungkapkan makna untuk disombongkan, tetapi tujuan dari pemahaman itu adalah untuk mengingatkan dan mendapat pelajaran serta beramal sesuai dengan ilmu yang didapat, dan pelajaran inilah yang dimaksud dalam ayat yang tidak akan didapat kecuali oleh ulul albab (orang-orang yang mempunyai fikiran). Dapat juga dikatakan bahwa tadabur adalah proses berfikir mendalam dan menyeluruh yang dapat menghubungkan ke pesan paling akhir sebuah perkataan, dan mencapai tujuan maknanya yang terjauh.

Langkah-langkah dalam Tadabbur al-Quran
Agar tadabbur terhadap al-Quran dapat menghasil yang diharapkan, maka ada beberapa metode (cara) yang mesti dilakukan oleh kita, yaitu:
Pertama, Niat yang tulus ikhlas
Yakni berniat hanya mengharap keridlaan dari Allah, bukan untuk mencari keuntungan duniawi, pujian atau niat yang lainnya.
Kedua, Membaca dan berinteraksi dengan al-Quran tartil dan konsisten
Yakni memenuhi kaedah membaca Al-Qur’a, seperti ilmu tajwid, makharij al-huruf, berurutan, misalnya mulai dari surat al-Fatihah sampai dengan surat An-Naas serta dilakukan secara terus-menerus dan konprehensif.
Ketiga, Kombinasi antara kecerdasan berpikir (akal) dan penghayatan (hati)
Yakni telaah terhadap pesan al-Qur’an dipikirkan dan dikaji  akal pikiran, kemudian dipahami, dihayati dan ditanamkan ke dalam hati nurani sebagai sebuah keimanan, serta mengalir ke seluruh tubuh kita yang akan mengendalikan semua pikiran, ucapan dan perilaku kita sehari-hari.
Keempat, Aktualisasi nilai-nilai al-Quran
Yakni pemikiran dan perenungan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, sehingga terjadi proses instalisasi software Al-Qur’an ke dalam akal dan nilai-nilai (values) ke dalam hati nurani (qalb) kita, sehingga membentuk karakter dan kepribadiannya dalam sikap dan tindakan dalam menjalani kehidupan di dunia ini.  
Wa-Allahu ‘Alam.