Selasa, 16 Juni 2015

Dakwah Nafsiyah: Membentuk Kepribadian Muslim



Dakwah Nafsiyah: Membentuk Kepribadian Muslim
Oleh: Drs. AHMAD GOJIN, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan STID Sirnarasa Ciamis)

Hai Orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telahnya untuk hari esok (akhirat….(QS. Al-Hasyr (59): 18).
Islam adalah agama dakwah, yaitu dalam ajarannya memerintahkan umatnya untuk mengajak keberbagai lini kehidupan manusia, supaya mereka beriman, bertaqwa, serta beramal sesuai dengan nilai-nilai Islam. Artinya dakwah ini merupakan kewajiban dan tanggung jawab semua umat Islam yang sudah mukallaf, laki-laki dan perempuan, sendiri dan kelompok, ulama dan intelek, aktivis dan politisi hartawan dan dermawan, dimanapun dan kapanpun sesuai dengan kapasitas, kemampuan dan kompetensinya masing-masing. Ulama dan intelek  berdakwah dengan ilmu dan pemikirannya. Aktivis, politisi, dan pemerintah berdakwah dengan jabatanya. Hartawan dan dermawan berdakwah dengan hartanya. Karena dakwah dilakukan untuk membangun manusia, baik dirinya sendiri, kelompok dan jamaah agar menjadi hamba Allah yang Shaleh dan bertaqwa kepadanya.
Konsep Dakwah Nafsiyah
Dakwah Nafsiyah (dakwah intrapersonal) adalah dakwah yang da’i (subjek) dan mad’u (objek) dakwah ialah dirinya sendiri. Dengan kata lain, dakwah nafsiyah adalah proses perubahan pada dirinya sendiri (baik jasmani dan ruhani) supaya tetap berada dijalan yang diridha Allah. Tujuan dari dakwah nafsiyah adalah mewujudkan pribadi seseorang senantiasa menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Dan keimanan dan ketaqwannya itu diaktualisasikan dalam segenap aspek kehidupannya. Dakwah nafsiyah ini pada implementasinya dilakukan melalui ibadah vertikal dan ibadah horizontal.
Konsep Nafsiyah (pribadi) Sebagai Manusia
Sebelum menjelaskan tentang metode dakwah nafsiyah, penulis mencoba menyinggung terlebih dahulu tentang manusia menurut pandangan Islam.
Dalam pandangan Islam, manusia, baik sebagai pribadi (dirinya sendiri) maupun sosial adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Oleh karenanya manusia dijadikan khalifah Tuhan di bumi  karena manusia mempunyai kecenderungan dengan Tuhan. Dan kitab Suci al-Qur’an ada beberapa kata untuk merujuk kepada arti manusia yaitu insan, basyar dan bani Adam.
Hakekat penciptaan manusia dalam perspektif Islam dengan merujuk pada nash Alquran, selalu bertitik tolak pada term khalaqa (menciptakan) dan atau ja’ala (menjadikan). Dimana Allah lah sebagai maha pencipta dan yang menjadikan manusia ada di muka bumi ini. Kedua term ini, mengimformasikan bahwa manusia itu tercipta atas dua unsur yakni materi dan immateri.
Kedua unsur yang disebutkan di atas, dapat tumbuh dan berkembang melalui proses pendidikan. Dengan demikian, manusia dapat disebut sebagai homo educandum (makhluk yang dapat didik) dan homo education (makhluk pendidik). Dari paradigma ini, menyebabkan ke-eksistensian manusia secara fitrawi disebut sebagai makhluk pedagogik, yakni makhluk Tuhan yang sejak diciptakannya telah membawa potensi untuk dapat didik dan dapat mendidik. Hal ini jelas, manusia sejak kecil dirawat oleh orangtuanya, sebagai manusia yang lemah. Ia diajarkan berbagai macam hal yang ia butuhkan untuk bertahan hidup, bertahap (step by step) bayi yg semula hanya bisa melakukan aktivitas dalam gendongan ibu akhirnya mampu melaksanakan kegiatannya dengan tumpuan kakinya sendiri untuk berjalan.
          Sementara itu,  dalam menentukan struktur kepribadian diri manusia tidak dapat terlepas dari masalah substansi manusia itu sendiri, sebab masalah substansi tersebut dapat diketahui hakikat dan dinamika prosesnya. Pada umumnya para ahli membagi subtansi manusia yang hidup terdiri atas dua bagian penting, yaitu jasmani (fisik) dan ruhani (psikis). Masing-masing kedua aspek ini pada prinsipnya saling melengkapi dan saling membutuhkan. Jasmani tanpa ruhani merupakan substansi yang mati, alias bangkai, sedang ruhani tanpa jasmani tidak dapat teraktualisasi dan terwujudkan. Karena saling melengkapi dan membutuhkan keduanya maka diperlukan perantara yang dapat menampung kedua naluri tersebut, yang dalam terminologi psikologi Islam disebut dengan nafs. Dan nafs yang berwujud manusia secara pribadi disebut nafsiyah (diri sendiri).

Metode Dakwah Nafsiyah
Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa subtansi manusia yang hidup terdiri atas dua bagian penting, yaitu jasmani (fisik) dan ruhani (psikis). Masing-masing kedua aspek ini pada prinsipnya saling melengkapi dan saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Dengan demikian, dalam dakwah nafsiyah ini, bagaimana cara (metode) manusia (sebagai dirinya sendiri) untuk mengoptimalkan potensi jasmani dan ruhaninya tersebut secara baik dan konsisten dalam rangka meraih kebahagian dan keselamatan di dunia dan akhirat. Adapun cara (metode) dakwah nafsiyah adalah sebagai berikut:
Pertama, unsur jasmani, yakni wujud dari komponen material atau fisikal diri seseorang. Menurut Imam al-Ghazali bahwa komponen jasmani ini dapat bergerak, memiliki ras, berwatak gelap dan kasar, dan tidak berbeda dengan benda-benda lain. Maka jasmani ini harus diisi dengan hal-hal yang bersifat material, seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi, minum yang menyehatkan, olah raga, istirahat yang cukup, bekerja mencari nafkah dan lain-lain.
            Kedua, unsur ruhani, yakni jisim nurani yang tinggi, hidup dan bergerak menembusi anggota-anggota tubuh dan menjalar di dalam diri manusia. Menurut Imam al-Ghazali berpendapat bahwa roh itu mempunyai dua pengertian : roh jasmaniah dan roh rihaniah. Roh jasmaniah ialah zat halus yang berpusat diruangan hati (jantung) serta menjalar pada semua urat nadi (pembuluh darah) tersebut ke seluruh tubuh, karenanya manusia bisa bergerak (hidup) dan dapat merasakan berbagai perasaan serta bisa berpikir, atau mempunyai kegiatan-kegiatan hidup kejiwaan. Sedangkan roh rohaniah adalah bagian dari yang ghaib. Dengan roh ini manusia dapat mengenal dirinya sendiri, dan mengenal Tuhannya serta menyadari keberadaan orang lain (kepribadiam, ber-ketuhanan dan berperikemanusiaan), serta bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya. Maka ruhani ini harus diisi dengan hal-hal yang bersifat non material, seperti shalat (wajib dan sunah), berzikir, berdoa, berpuasa (wajib dan sunah), zakat, infaq dan sadaqah dan bentuk ibadah lainnya.
Dari uraian diatas, dapat diambil benang merahnya, bahwa dakwah nafsiyah adalah dakwah yang da’i (subjek) dan mad’unya (objek) ialah dirinya sendiri. Dengan kata lain, dakwah nafsiyah adalah proses perubahan pada dirinya sendiri (baik jasmani dan ruhani) supaya seluruh aspek kehidupnya tetap berada dijalan yang diridha Allah, sehingga dirinya dapat mencapai kebahagian dan keselamatan di dunia dan di akhirat nanti.
Adapun cara (metode) yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1) unsur jasmani, misalnya makan yang bergizi, olahraga dan lain-lain; 2) unsur ruhani, misalnya shalat, berzikir, berdoa dan lain-lain. Wa-Allahu ‘Alam.  



Senin, 15 Juni 2015

Tasawuf dan Thariqah



Kualitas Mursyid Dalam Thariqah
Oleh: Drs. AHMAD GOJIN, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung Dan STID Sirnarasa Ciamis-Jawa Barat)

Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka ia benar-benar mendapatkan petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan, maka orang itu tidak akan pernah engkau dapatkan seorang mursyid (pemimpin) yang mampu memberi petunjuk kepadanya. (Al-Kahfi (18): 17)
Fungsi dan kedudukan mursyid dalam thariqat menempati posisi penting dan menentukan. Seorang mursyid bukan hanya memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya baik lahir dan bathin, tapi juga senantisa memelihara dan mencegah dirinya dari hal-hal yang dapat menyimpang dari ajaran-ajaran Islam dan terjerumus kedalam maksiat, seperti berbuat dosa besar atau dosa kecil. Selain itu ia juga, memimpin, membimbing dan membina murid-muridnya melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan oleh syara’ dan melaksanakan amal-amal sunnah agar selalu mendekatkan (taqarub) diri kepada Allah SWT guna mendapatkan ridla Allah SWT. Oleh sebab itu seorang mursyid pada hakikatnya adalah sahabat rohani yang sangat akrab sekali dengan rohani muridnya yang bersama-sama tak bercerai-cerai, seirama dan sejalan dalam melaksanakan zikrullah (mengingat Allah) dan ibadat lainnya menuju ke hadirat Allah SWT. Persahabatan itu tidak saja semasa hidup di dunia, tetapi persahabatan rohaniah ini tetap berlanjut sampai ke akhirat, walaupun salah seorang telah mendahului berpulang ke rahmatullah, dan telah sederetan duduknya dengan para wali Allah yang shaleh.
Term mursyid berasal dari bahasa Arab dan merupakan bentuk ism fa’il (Inggris, present participle) dari kata kerja arsyada yursyidu yang secara bahasa (etimologi) berarti pembimbing, guru, pemimpin, petunjuk jalan. Kata tersebut diambil dari kata rasyad, artinya hal memperoleh petunjuk atau kebenaran atau dari kata rusyd dan rasyada, berarti hal mengikuti jalan yang benar atau lurus. Dengan demikian, makna mursyid adalah orang yang membimbing atau menunjuki jalan yang lurus. Dan dalam al-Quran kata mursyid muncul dalam konteks hidayah (petunjuk) yang diposisikan dengan kata dhalalah (kesesatan), dan ditampilkan untuk menyipati seorang wali yang oleh Tuhan dijadikan sebagai khalifah-Nya yang berfungsi sebagai seseorang untuk memberikan petunjuk kepada manusia (lihat QS. Al-Kahfi (18): 17).
Sedangkan dalam konteks tasawuf atau tarekat kata mursyid sering digunakan dengan istilah Syaikh yang diterjemahkan dengan guru. Istilah mursyid secara khusus pada kalangan sufi dan ahli thareqat itu adalah orang yang pernah membaiat dan menalqin atau mengajari kepada murid tentang teknik-teknik bermunajat kepada Allah berupa teknik dzikir atau beramalan-amalan shaleh. Mursyid adalah guru yang membimbing kepada murid untuk berjalan menuju Allah SWT dengan menapaki jalannya. Dengan bimbingan guru itu, murid meningkat derajatnya di sisi Allah, mencapai Rijal-Allah, dengan berbekal ilmu syariat dan ilmu hakikat yang diperkuat oleh al Qur’an dan as sunah serta mengikuti jejak ulama pewaris nabi dan ulama yang telah terdidik oleh mursyid sebelumnya dan mendapat izin dari guru di atasnya untuk mengajar umat. Guru yang dimaksud adalah guru yang hidup sezaman dengan murid dan mempunyai tali keguruan sampai nabi Muhammad Saw. Guru yang demikian itu adalah yang sudah Arif Billah, tali penyambung murid kepada Allah, dan merupakan pintu bagi murid masuk kepada istana Allah. Dengan demikian fungsi mursyid merupakan faktor yang penting bagi murid (salik) untuk mengantarkannya menuju diterimanya taubat dan dibebaskannya dari kelalaian kepada Allah SWT. Dan dalam perjalanannya menuju Allah SWT, seorang murid wajib baginya menggunakan mursyid atau pembimbing. Syekh Abu Yazid al Busthomi berkata:
Orang yang tidak mempunyai syeikh atau mursyid, maka syekh atau mursyidnya itu adalah syetan.
Muhammad Amin al Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub fi mu’amalati ‘alamil ghulub menjelaskan bahwa pada saat murid ingin meniti jalan menuju Allah (thariqah-Allah), ia harus bangkit dari kelalaian. Perjalanan itu harus didahului dengan taubat dan segala dosa kemudian ia melakukan amal shaleh. Setelah itu ia harus mencari seorang guru mursyid yang ahli keruhanian yang mengetahui penyakit-penyakit kejiwaan dari murid-muridnya. Guru tersebut yang hidup semasa dengannya, yaitu seorang guru yang terus meningkatkan dirinya pada kedudukan kesempurnaan, baik secara syariat maupun hakikat. Perilakunya juga sejalan dengan al Qur’an dan al Sunnah serta mengikuti jejak langkah para ulama pendahulunya. Secara berantai hingga kepada Nabi SAW. Gurunya itu juga telah mendapat lisensi atau izin dari kakek gurunya untuk menjadi seorang mursyid dan pembimbing keruhanian kepada Allah SWT, sehingga murid berhasil diantarkan kepada maqam-maqam dalam tasawuf dan thariqat. Penentuan guru ini juga tidak boleh atas dasar kebodohan dan mengikuti nafsu.
Sebelum ia menjadi mursyid yang arif bi-Allah, seseorang harus mendapat tarbiah (pendidikan) dari guru yang selalu mengawasi perkembangan ruhani murid, sehingga murid mencapai maqam shiddiq (benar). Kemudian diizinkan oleh guru untuk membaiat kepada calon murid yang lain dan mengajari mereka.
Tampilnya menjadi mursyid itu bukan kehendak dirinya, tapi kehendak gurunya. Oleh sebab itu, orang yang memunculkan dirinya sebagai mursyid tanpa seizin guru maka ia sangat membahayakan bagi murid-muridnya. Murid yang di bawah bimbingannya itu akan mengalami kesesatan. Hal ini berarti, ia adalah mursyid palsu yang akan menjadi penghalang muridnya menuju Allah dan dosa-dosa mereka akan ditanggung oleh mursyid tersebut.
Dari penjelasan di atas, seorang mursyid semestinya adalah orang yang tergolong ulama, guru, syekh, dan pemimpin umat yang kamil lagi mukammi,  yakni memiliki kepribadian yang bersih, arif terhadap ilmu dan berakhlak yang terpuji, serta mampu menyempurnakan akhlak murid-muridnya kearah akhlak mahmudah. Seorang mursyid harus memiliki keyakinan yang kokoh, menjadi kekasih Tuhan, membawa berkah serta rahmat bagi segenap murid-muridnya. Ia mengetahui berbagai penyakit ruhani dan jasmani muridnya, mampu menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut dan juga mampu mengajarkan teknik-teknik penyembuhan dan pengobati jasmani dan ruhani mereka. Selain itu, ia juga mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit yang membelenggu, memiliki karamah dan maunah yang diberikan oleh Allah kepadanya.
Idealnya seorang guru mursyid atau syaikh dalam thariqat memenuhi kemampuan-kemampuan dan harapan di mata muridnya sebagai berikut:
a.   Syaikh al Iradah, yaitu tingkat tertinggi dalam thariqat yang iradahnya (kehendaknya) telah bercampur dan bergabung dengan hukum Allah, sehingga pengaruh dari syaikh tersebut bagi orang yang meminta petunjuk padanya menyerahkan jiwa dan raganya secara total.
b.   Syaikh al Iqtida’, yaitu guru yang perilakunya dapat ditiru dan dicontoh oleh murid-muridnya, demikian pula perkataan dan perbuatannya harus menjadi teladan bagi mereka.
c.   Syaikh at Tabarruk, yaitu guru yang selalu dikunjungi oleh orang-orang yang meminta petunjuk, sehingga berkahnya melimpah kepada mereka.
d.  Syaikh al Intisab, ialah guru yang selalu membimbing bagi umat, maka orang yang meminta petunjuknya akan beruntung, lantaran bergantung kepadanya. Dalam hubungan ini orang itu akan menjadi khadamnya (pembantunya) yang setia, serta rela menerima berbagai perintahnya yang berkaitan dengan tugas-tugas keduniaan.
e.   Syaikh at Talqin, adalah guru keruhanian yang mengajar setiap individu anggota thariqat dengan berbagai do’a atau wirid yang selalu harus diulang-ulang.
f.    Syaikh at Tarbiyah, adalah guru yang melaksanakan urusan-urusan tertentu bagi salik pemula dari pengamal thariqat.
Adapun fungsi dan peranan guru yang kita kenal dalam dunia pendidikan formal maupun non formal adalah sebagai transfer of knowledge (mengisi pengetahuan) dan ia mengajarkan pada murid-muridnya ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Sedangkan pendidikan yang diajarkan mursyid kepada muridnya adalah transfer of spiritual (mengisi ruhani), yakni Iman dan Takwa (Imtak). Walaupun fungsi mursyid itu sama dengan fungsi guru dalam dunia pendidikan yaitu pemimpin, pembimbing dan pembina murid-muridnya, namun ranahnya berbeda, dimana seorang mursyid ranah yang diisi adalah ruhani yang sangat halus yang berpusat pada kalbu (hati), yang sifatnya tidak kelihatan, gaib atau metafisik.
Berdasarkan terminologi ketentuan dan kreteria mursyid di atas,  maka tidak semua orang bisa menjadi mursyid. Seorang mursyid memiliki tanggung jawab yang sangat berat. Oleh karenanya seorang mursyid menurut Muhammad Amin al Kurdi sekurang-kurangnya harus memiliki kriteria dan adab sebagai berikut:
a.  Alim, yakni ia seorang ahli di dalam memberikan irsyadat (tuntunan) kepada para muridnya dalam masalah tauhid, syariat, fiqih, dan akhlak serta membuang segala prasangka dan keraguan dari hati para muridnya mengenai persoalan tersebut.
b.  Arif, yakni bijasana, lapang dada serta memiliki kesucian hati, akhlak (etika), ketulusan jiwa dan mengetahui penyakit dan mengetahui cara menyembuhkan murid-muridnya.
c.  Rahmah, yakni kasih sayang terhadap sesama muslim, terutama mereka yang menjadi muridnya.
e.  Amanah, yakni selalu memegang teguh amanah gurunya dan disampaikan kepada murid-muridnya, tidak menggunakan harta benda mereka dalam bentuk dan kesempatan apapun dan juga tidak menginginkan apa mereka miliki, kecuali ridha Allah.
Dengan demikian, kreteria serta syarat-syarat bagi seorang mursyid sangat berat. Sehingga kalau seorang mursyid itu sendiri ditanya, apakah kamu telah memenuhi kreteria dan syarat mursyid? Maka jawabnya pasti adalah sangat berat untuk mengatakan ya, atau kalau mau jawaban yang singkat, ia akan mengatakan tidak tahu. Karena sebenarnya bukan ia sendiri yang menilai kualitas dirinya, kecuali Allah SWT dan umatnya. Begitulah beratnya kriteria bagi seorang mursyid namun dia tentunya akan berusaha sekuat tenaga, sepenuh jiwa dan hati melaksanakan tugas-tugasnya itu. Dia harus selalu siap perintah Allah dan Rasul dan gurunya, yaitu mendawamkan dzikrullah kapan dan dimanapun secara sungguh-sungguh. Jadi hanya Allah dan Umat yang dapat menilai terhadap kualitas diri seorang mursyid.


.


Jumat, 22 Mei 2015

Dakwah Fardiyah: Mencetak Muslim Sejati



Dakwah Fardiyah: Mencetak Muslim Sejati
Oleh: Drs. AHMAD GOJIN, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan STID Sirnarasa Ciamis)

Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka,  yang bahan bakarnya adalah manusi dan batu …..(QS. At-Tahriim (66): 6).
Dakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah di setiap masa. Apalagi pada zaman sekarang, umat Islam tengah menghadapi tantangan yang tidak ringan secara bertubi-tubi dari musuh-musuh Islam, maka tingkat kewajiban berdakwah pada zaman sekarang menjadi lebih berat. Dan kita juga harus mengetahui bahwa mengajak manusia ke jalan Allah SWT merupakan amaliyah bukan hal yang mudah.
Dakwah pada hakekatnya merupakan aktualisasi nilai-nilai ajaran Islam kedalam tata kehidupan umat manusia dengan tujuan mewujudkan umat yang terbaik (khoirul ummat ) yang diridho Allah SWT. Sasarannya adalah terwujudnya pribadi yang baik (khairul nafsiyah), keluarga (khairul usrah) dan masyarakat (khairul majtama). Tercapainnya tiga sasaran tersebut berarti tujuan dakwah Islam sendiri.
Hal ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara, di antaranya melalui dakwah fardiyah. Dakwah Fardhiyah adalah dakwah yang pelaksanaanya person to person. Upaya menasehati yang ampuh untuk mendekati hati dan memfokuskan diri untuk memperbaiki seseorang. Banyak pengalaman orang lain dalam merekrut orang melalui dakwah fardiyah. Dan terkadang memang melakukan dakwah fardiyah memerlukan kiat tersendiri. Untuk lebih jelasnya pada makalah ini akan dipaparkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan dakwah fardiyah.
Konsep Dakwah Fardiyah
Dakwah Fardiyah (dakwah interpersonal) adalah dakwah yang mad’u (objek) dakwah ialah hanya seorang. Dengan kata lain, dakwah fardiyah adalah proses merubah mad’u seorang diri supaya kearah yang baik. Tujuan dari dakwah fardiyah adalah mewujudkan individu seseorang senantiasa menjadi hamba yang selalu berada dijalan Allah SWT. Dalam proses dakwah fardiyah, seorang da’i berusaha lebih dekat mengenal mad’u, menyertainya dan membina persaudaraan dengannya karena Allah.dalam persahabatan ini, da’i berusaha membawa mad’u kepada keimanan, ketaatan, kesatuan dan komitmen pada sistem kehidupan Islam dan adab-adabnya yang menghasilkan sikap tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan membiasakannya beramar ma’ruf nahy munkar. Merujuk kepada ilmu komunikasi, dakwah fardiyah dapat diidentikkan dengan dakwah interpersonal atau dakwah antar pribadi.
Pemahaman tentang dakwah fardiyah ini dapat dirujuk dari teori peranan komunikasi antar pribadi (Johnson, 1981), yaitu pertama, komunikasi antar pribadi dapat membantu perkembangan intelektual dan sosial masyarakat. Kedua, komunikasi antar pribadi dapat membantu adanya identitas dan jati diri seseorang. Ketiga, melalui komunikasi antar pribadi kita dapat melakukan pembandingan social terhadap kesan-kesan dan pengertian kita tentang dunia luar kita. Keempat, kesehatan mental seseorang sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi antar pribadi yang terjadi di lingkungan tempat tinggal seseorang.
Dakwah fardiyah adalah dakwah seseorang kepada orang lain. Seorang da’i berdakwah kepada seorang mad’u dengan pendekatan personal atau dari hati ke hati. Dakwah fardiyah bisa dilakukan dengan dengan cara langsung face to face atau dengan cara tidak langsung melalui telpon, pesan singkat (SMS), internet dan lain-lain. Merijuk kepada tulisan Johnson diatas, jika sepakat mengatakan bahwa komunikasi interpersonal identik dengan dakwah fardiyah, maka dakwah fardiyah ini sangat efektif bila dilakukan secara rutin dan berkesinambungan karena seorang da’i akan lebih terfokus perhatiannya kepada seorang atau beberapa mad’u saja. Da’i dapat memantau perkembangan pemahaman dan pengalaman agama mad’u yang menjadi sasarannya mulai dari pemahaman dan pengalaman yang rendah sampai pada pemahaman dan pengalaman agama yang lebih tinggi. Dakwah fardiyah dapat dilakukan oleh sebagian besar umat Islam karena pendekatan dakwah fardiyah dapat dilakukan secara sangat pribadi dari hati ke hati dan dapat dilakukan di tempat tinggal mad’u tanpa harus melakukan dakwah secara terbuka di depan banyak orang. Dengan kata lain dakwah fardiyah dapat dilakukan oleh setiap orang yang mempunyai kemampuan terbatas, keberanian terbatas dan ruang gerak terbatas.

Pendekatan Dan Metode Dakwah Fardiyah
Setidaknya terdapat tiga pendekatan dakwah fardiyah yang dapat dilakukan oleh da’i dalam memahami keberadaan mad’unya, yaitu mafhum kurabi (kedekatan), mahfum hajati (kebutuhan) dan mahfum tanzhimi (pengelolaan).
Pertama, mafhum kurabi, yakni usaha seorang da’i agar lebih dekat mengenal mad’u dalam rangka mengajaknya ke jalan Allah. Dengan demikian, diharapkan dengan adanya kedekatan da’i dengan mad’u tersebut maka otomatis da’i akan lebih mudah banyak mengenal kepribadian dan karakternya. 
Kedua, mahfum hajati, yakni usaha da’i selain adanya kedekatan juga mampu memahami kebutuhan dasar (kebutuhan primer) ma’u yang sebenarnya. Maka tugas da’i dengan semaksimal mungkin dapat memenuhi kebutuhan mad’unya.
Ketiga, mahfum tanzhimi, yakni upaya pengelolaan dan pembinaan da’i terhadap seorang mad’u dengan cara memberikan pengarahan (ta’lim), mempraktikan (Tauzif) dan dievaluasi (taujih).
Sedangkan cara (motode) yang dilakukan da’i dalam proses dakwah terhadap mad’unya antara lain sebagai berikut:
Pertama, dengan lisan (bi al-lisan), yakni berdakwah dengan cara ceramah, tausiyah (menasihati), berdialog, diskusi, seminar dan lain-lain.
Kedua, dengan tulisan (bi al-kitabah), yakni berdakwah dengan cara menulis surat, karikatur, lukisan, artikel, buliten, dan lain-lain.
Ketiga, dengan perilaku (bil al-hal), yakni berdakwah dengan cara mempragakan, demontrasi, keteladanan, mempraktikan dan lain-lain.
Dari uraian di atas, dapat diambil benar hijaunya, bahwa dakwah fardiyah (dakwah interpersonal) adalah dakwah yang mad’u (objek) dakwah ialah hanya seorang. Dengan tujuan dari dakwah fardiyah adalah mewujudkan individu seseorang senantiasa menjadi hamba yang selalu berada dijalan Allah SWT. Dalam proses dakwah fardiyah, seorang da’i berusaha lebih dekat mengenal mad’u, menyertainya dan membina persaudaraan dengannya karena Allah.dalam persahabatan ini, da’i berusaha membawa mad’u kepada keimanan, ketaatan, kesatuan dan komitmen pada sistem kehidupan Islam dan adab-adabnya yang menghasilkan sikap tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan membiasakannya beramar ma’ruf nahi munkar. Sehingga menjadi seorang muslim yang sejati, yakni seorang muslim yang beriman, berilmu pengetahuan dan beramal shaleh.
Adapun pendekatan yang lakukan leh da’i terhadap mad’unya adalah mafhum kurabi (kedekatan), mahfum hajati (kebutuhan) dan mahfum tanzhimi (pengelolaan). Sedangkan metodenya adalah dengan lisan (bi al-lisan), dengan tulisan (bi al-kitabah), dan dengan perilaku (bil al-hal). Wa-Allahu ‘Alam.