Minggu, 03 Mei 2015

Paradigma Dakwah Dalam Pendekatan Sufistik



Paradigma Dakwah Dalam Pendekatan Sufistik
Oleh: Drs. AHMAD GOJIN, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan STID Sirnarasa Ciamis)

Pendahuluan
            Al-Imam As-Syafi’i berkata: Aku hidup bersama dengan orang-orang Sufi, maka Aku bisa mengambil manfaat dari mereka dalam tiga Kalimat : Waktu adalah pedang, jika engkau tidak bisa memotongnya (menggunakanya), maka dia yang akan memotongmu (menjadikan engkau celaka dan rugi) Dirimu dan keinginan nafsumu, jika engkau tidak menyibukkanya dengan sesuatu yang benar, maka dia akan menyibukkanmu dengan urusan yang bathil
K etidak beradan (kefaqiran) merupakan penjagaan dari Allah.
(Imam Baiquni, dalam Kitab Manaqib al-Syafi’i).
Dakwah secara etimologi dapat diartikan sebagai seruan, ajakan, dan panggilan. Dapat pula diartikan mengajak, menyeru, memanggil dengan lisan atau dengan perbuatan nyata. Atau dengan kata lain,  bahwa dakwah adalah proses penyampaian pesan Islam dari seseorang (sebagai da’i) kepada orang lain (mad’u), baik secara individu maupun secara kelompok. Penyampaian pesan tersebut dapat berupa perintah untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya (amr ma’ruf nahy al-munkar).
Usaha dakwah hendaknya dilakukan secara sadar dengan tujuan untuk terbentuknya individu yang baik (khayr al-nafsi), keluarga yang bahagia (khayr al-usrah) dan masyarakat yang terbaik (khayr al-ummah) dengan cara taat menjalankan ajaran Islam melalui bahasa lisan, tulisan, perbuatan, maupun keteladanan.
Dakwah dalam implementasinya, merupakan kerja dan karya besar manusia, baik secara personal maupun kelompok (organisasi) yang dipersembahkan untuk Tuhan dan sesamanya adalah kerja sadar dalam rangka menegakkan keadilan, meningkatkan kesejahteraan, menyuburkan persamaan, dan mencapai kebahagian atas dasar ridha Allah SWT. Dengan demikian, baik secara teologis maupun sosiologis dakwah akan tetap ada selama umat manusia masih ada dan selama Islam masih menjadi agama manusia.
Secara teologis, dakwah merupakan bagian dari tugas suci (ibadah) bagi umat Islam. Kemudian secara sosiologis, kegiatan dakwah apapun bentuk dan konteksnya akan selalu dibutuhkan dalam rangka mewujudkan keshalehan individual dan keshalehan sosial, yaitu mewujudkan pribadi yang ber iman dan bertaqwa serta memiliki rasa kasih sayang terhadap sesamanya, mewujudkan tatanan masyarakat marhamah dan damai yang dilandasi oleh kebenaran tauhid, persamaan derajat, semangat persaudaraan, kesadaran akan arti penting kesejahteraan bersama, dan penegakan keadilan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Pada dasarnya, dakwah merupakan suatu rangkaian kegiatan atau proses dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Tujuan ini dimaksudkan sebagai pemberi arah atau pedoman bagi gerak langkah kegiatan dakwah. Sebab tanpa tujuan yang jelas seluruh kegiatan dakwah akan sia-sia (muspra; dalam bahasa Jawa). Apabila ditinjau dari pendekatan sistem, tujuan dakwah merupakan salah satu unsur dakwah.
            Memang bukan hal yang mudah untuk menyusun strategi dan metode dakwah yang baik dan tepat sasaran dalam konteks masyarakat seperti sekarang ini. Kesulitan itu telihat tatkala kita menghadapkan pandangan ke depan secara langsung ketika berhadapan dengan hamparan tatanan masyarakat informatif dan industrial dengan segala fenomena dan dampak yang ditimbulkannya. Begitu rumitnya ketika kita akan memetakan arah perkembangan masyarakat itu, sehingga kesulitan juga untuk menyiasatinya. Untuk  mewujudkannya diperlukan metode dan strategi dakwah secara serius.
            Kemudian apa yang dapat kita lakukan supaya Islam tetap dapat disebarluaskan di tengah- tengah globalisasi peradaban yang serba industrial itu ? Ini pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab. Kecenderungan peradaban global (millenium ke-3) bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dihadapi dengan penuh kearifan dan manusiawi. Iptek yang terus berkembang harus menjadi media pengembangan religiusitas dan jalan mendekatkan diri pada Allah. Pilihan iman dan Islam sebagai jalan hidup (way of Life) harus bersedia dan berani berperan dalam dinamika sejarah yang sering kali terjadi konplik dan kekeras (jasmani dan ruhani) masyarakat global dan modern.
            Masyarakat global saat ini juga menampakkan ciri-ciri sebagai masyarakat fungsional, teknologis, saintifik, terbuka, pemiskinan agama, dan masyarakat permisif.
            Perlu disadari bahwa peradaban global dan industrial merupakan tahapan sejarah abad ke-21 yang tak terelakkan. Termasuk masyarakat Indonesia, tidak lama lagi akan memasuki mekanisme pasar (perdagangan bebas) akan berada dalam pusaran peradaban tersebut. Peradaban industrial disamping membawa kemajuan dan kemudahan hidup, juga menimbulkan persoalan sosial dan budaya yang luas akibat ketidaksiapan mental dan fisik sebagian manusia.
            Harus pula disadari bahwa gerak pembangunan dan peradaban demikian disebabkan karena tidak seluruhnya terekam secara memadai dalam panduan cita-cita Islam. Pemikiran dan pembaharuan pemikiran Islam jauh dari pengalaman industrial, sehingga sulit diketemukan rujukan pemikiran Islam yang cukup berarti bagi penyelesaian berbagai persoalan kemanusian didalamnya.
            Disamping itu, proses dakwah Islam perlu dilaksanakan secara tepat dan benar, untuk merangsang daya spiritual sebagai pondasi peradaban industrial. Dakwah, baik secara individu maupun kolektif (organisasi) harus dikembangkan sebagai wujud kebudayaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan,  dalam mewujudkan kemanusiaan sejati. Dakwah juga harus dapat memberi arah peradaban dan perubahan seluruh dimensi kehidupan manusia dan masyarakat secara transformatif menuju kesejahteraan hidup duniawi yang Islami.
            Proses dakwah juga perlu menaruh perhatian terhadap berbagai persoalan yang dalam masyarakat global dan industrial. Berbagai persoalan tersebut akan berkaitan dengan tumbuhnya kawasan perumahan dan industri, perilaku dan tatanan sosial-budaya yang belum diketemukan rujukannya dalam pemikiran klasik, munculnya kelompok kelas baru dalam masyarakat (kelas menengah, generasi muda terdidik, profesional, politisi, birokrat, intelektual dan lain-lain), masyarakat miskin (material dan spiritual), masyarakat marjinal, penyimpangan sosial serta keagamaan, komunitas pekerja buruh dan sebagainya.
            Secara operasional proses dakwah harus diarahkan pada pelayanan sosial bagi penyelesaian hidup masyarakat modern sebagai wujud tanggung jawab atau komitmen kemanusiaan. Untuk itu diperlukan perumusan dan penataan etos kerja, pengorganisasian dan strukturisasi dakwah secara solid sehingga menempatkan kerjasama dengan berbagai elemen sebagai pengendalian perubahan kearah kehidupan yang lebih manusiawi,  sejahtera, dinamis, dan berkemajuan atas dasar prinsip nilai-nilai ajaran Islam.
Profesionalitas pelaku dakwah ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan secara maksimal bebagai media komunikasi, baik elektronik maupun cetak, seperti televisi, radio, internet, buku, majalah dan koran dan media sosial lainnya. Namun, sesuai kecenderungan masyarakat global-industrial yang membelah keutuhan kemanusiaan menjadi bagian-bagian yang rumit, sulit menentukan sosok mubaligh yang memiliki kemampuan professional-generalistik. Karena itu pemanfaatan media di atas memerlukan pembagian tugas, terprogram dan kerjasama secara terus menerus sesuai tuntutan kebutuhan masyarakat.
            Miskin dan gersangngnya spiritual masyarakat modern perlu diantisipasi melalui layanan dan konsultasi dakwah, pengembangan hidup jamaah dan bimbingan pengkayaan spritual. Maka disinilah, pendekatan etis dan tasawuf (sufistis) sangat mungkin dapat dipertimbangkan guna memperkaya pengalaman ritual dan spiritual melalui pengembangan tradisi pikir dan dzikir dalam pengertian luas.
            Masyarakat lapisan bawah dan pekerja kasar, seperti buruh, petani, nelayan tradisional dan sebagainnya akan semakin meluas kearah kawasan industri. Maka juru dakwah (da’i) harus menaruh perhatian dan terlibat aktif untuk menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi.
            Keterasingan sosial juga meluas searah perkembangan kantong-kantong industri terlepas dari lingkungan di masyarakat. Situasi demikian tidak hanya dialami oleh kaum marginal di perkotaan, tetapi juga kelompok elit yang terlepas dari struktur besaran masyarakat. Untuk kasus demikian perlu pengembangan semangat hidup berjamaah yang tidak semata berdasar status dan profesi tetapi juga membangun semangat kebersamaan, kerjasama dan tolong-menolong dalam arti luas. Keterasingan demikian juga dapat dialami akibat keagamaan yang reduksi dalam bentuk perilaku sempalan akibat ketidakmampuan mengintegrasikan ketentuan ajaran Islam anatara yang bersifat ritual formal dengan tuntutan hidup masyarakat modern dan industrial. Kondisi tersebut sering dihadapi generasi muda muslim berpendidikan. Untuk itu perlu dikembangkan pemikiran dan wawasan keagamaan yang menempatkan iptek dan kebudayaan sebagai jalan mendekati Tuhan di samping pemahaman substansi dan pesan moral firman Allah.
            Cara dakwah sekarang harus mengarah pada penanganan masalah riil. Artinya bahwa kegiatan dakwah harus merupakan usaha pemecahan atau penyelesaian masalah kehidupan umat dan masyarakat di bidang sosial-budaya, ekonomi dan politik dalam kerangka masyarakat modern.
            Menurut Imam Abdullah bin Alwi al-Haddad, . Nafaisu al-uluwiyyah fi al-masail al-shufiyyah wat takhafu al-saail bi jawab al-masaail,  tasawuf adalah hijrahnya seorang hamba dari akhlak tercela menuju akhlak mulia. Seorang sufi kamil (sempurna) adalah orang yang membersihkan amal, perkataan, niat dan perbuatan riya, baik  dhahir maupun  bathin.
            Secara umum,  dakwah melalui pendekatan sufistik bertujuan untuk membersihkan jiwa (batin ) manusia, yaitu sedekat mungkin dengan Allah (taqarub  ila Allah), seperti zikir, zuhud, tazkiyatun nafsi (membersihkan jiwa) dan Ma’rifat (terbukanya hijab ketuhan), dengan jalan proses Takhalli, Tahalli dan berujung pada Tajalli. Tahapan maqam yang harus dilalui para sufi pada umumnya terdiri tujuh maqam, yaitu  maqam taubat, maqam wara, maqam zuhud, maqam fakir, maqam sabar, maqam tawakal dan maqam ridha.
            Adapun uraian maqam-maqam tersebut adalah sebagai berikut: 
            Pertama, taubat adalah merupakan pangkal tolak peralihan dari hidup lama (ghoflah) ke kehidupan baru secara sufi. Yakni hidup selalu ingat tuhan sepanjang masa.  
            Kedua, Wara adalah meninggalkan hal-hal  yang syubhat (tarku syubhat)  yakni menjauhi atau meninggalkan segala hal yang  belum jelas haram dan halalnya. Wara itu ada dua tingkat, wara segi lahir yaitu hendaklah kamu tidak bergerak terkecuali untuk ibadah kepada Allah. Dan wara batin, yakni agar tidak masuk dalam hatimu terkecuali Allah SWT.
            Ketiga, zuhud yakni upaya melatih dan menyucikan hati  seseorang untuk melepas ikatan hati dengan dunia.
            Keempat, fakir di rumuskan dengan tidak punya apa-apa dan juga tidak menginginkan apa-apa, kecuali keridhaa Allah.
            Kelima, sabar, yakni memiliki kemapuan untuk menahan segala ujian dan cobaan hidup karena mengharapkan keridhaan Allah.
            Keenam, tawakal, yakni menyerahkan sepenuhnya segala urusan kepada Allah, setelah berusaha semaksimal mungkin.
            Ketujuh, ridha, yakni merespon dan merubah segala ujian dan cobaan menjadi kesenangan dan kenikmatan hidup.
            Dari uraian di atas, dapa diambil benang merahnya, bahwa beredaan masyarakat modern-industri kehidupannya penuh  persaingan (kompetisi) hidup yang menjurus pada persaingan yang tidak sehat, kesibukan aktivitas kerja dan karir, yang mengarah pada lupa waktu, mengejar mencintai materi atau harta dunia yang berlebihan (hubbub dunya), hidup nafsi-nafsi (individualisti) tidak peduli orang lain dan yang lainnya. Sehingga dengan keberadaan seperti itu membuat mereka lupa terhadap kebutuhan batiniyah (kebutuhan jiwa).  Sehingga batiniyah mereka kering dan gersang dari nilai-nilai spiritual. Maka batin dan jiwa mereka membutuhkan “siraman spiritual”. Dan disinilah dakwah dengan pendekatan sufistik berpeluang dan  berperan untuk mengisi batiniyah masyarakat modern-induntri tersebut, dengan melalui berbagai maqam (stasiun) sebagai berikut;  pertama, maqam Taubat, yakni selalu  mengingat Allah kapan di manapun, yang diwujudkan dengan mejalankan kewajiban terhadap ajaran agama Islam. Kedua, maqam Wara, yakni selalu menjauhkan diri hal belum jelas halal dan haranya (syubhat), yang diwujudkan dengan cara selektif bertindak dan mengkonsumsi terhadap yang larang Allah, yaitu yang diharamkan. Ketiga, maqam Zuhud, yakni upaya melatih diri dan menyucikan hati untuk tidak terlalu cinta dan berlebihan dalam urusan dunia (hubbub dunia), sehingga melupakan Allah. Keempat, maqam Fakir, yakni segala aktivitas yang mereka kerjakan, tidak lain hanya mengharapkan keridhaa Allah. Kelima, maqam Sabar, Yakni memiliki kemapuan untuk menahan segala ujian dan cobaan hidup karena mengharapkan keridhaan Allah memiliki kemapuan untuk menahan segala ujian dan cobaan hidup demi mengharapkan keridhaan Allah. Keenam, maqam Tawakal, yakni menyerahkan sepenuhnya segala urusan kepada Allah, setelah berusaha semaksimal mungkin dan Ketujuh, maqam ridha, yakni merespon dan merubah segala bentuk ujian dan cobaan menjadi kesenangan dan kenikmatan hidup. Dengan demikian, masyarakat modern-industrial diharapkan batiniyahnya dapat dikendalikan dan tidak lagi kering dan gersang dari nilai-nilai spiritual  lupa diri, lupa daratan, dan bahkan tidak lagi  lupa kepada Sang Penciptanya, yaitu Allah Subnahu Wa Ta’ala. Pada akhirnya,  batin dan jiwa mereka menjadi tenang, damai dan mendapatkan ridha Allah dalam menjalani aktivitas hidup dan kehidupannya. Amin.
Wa-Allahu Alam.                                                                                                              


Daftar Pustaka

Aziz Dahlan, Abdul. 2012. Teologi Filsafat Tasawuf dalam Islam. Jakarta: Ushul Press.
Agus Salim,
http://muhakbarilyas.blogspot.com/2012/05/tantangan-dakwah-dalam-masyarakat.html, di unduh taggal 29 Desember 2014, pukul 19.00 WIB.
Hussein Nasr, Sayyed. 1985. Tasawuf Dulu dan Sekarang. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Ma‟luf, Louis. 1986. Al-Munjid fi Al-Lughah wa Al- A’lam. Beirut: Dar Al Masyriq.
Munir Amin, Samsul . 2012. Ilmu Tasawuf . Jakarta: Amzah,
Nasution, Harun. 1986. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jakarta: UI Press.
Nata. Abudin. 2004.  Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Trimingham, J. Spencer. 1973. The Sufi Orders in Islam. London: Oxford University Press.

Peranan Manajemen Dalam Dakwah Islamiyah



Peranan Manajemen Dalam Dakwah Islamiyah
Oleh: Drs. Ahmad Gozin, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan STID Sirnarasa Ciamis)


Pendahuluan
 Term manajemen merupakan cabang ilmu ekonomi, yang dalam bahasa Arab disebut dengan tanzim atau idharah. fungsi dan peranan manajemen dalam aktifitas dakwah merupakan sesuatu hal yang bersifat dharuriy (sangat penting) dan tidak bisa ditawar-tawar. Dalam istilah ushul fiqh terdapat ungkapan: Maa laa yatimmul waajib illa bihi fahuwa waajib (suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka yang lain itu menjadi wajib pula hukumnya). Jangankan untuk masalah dakwah, masalah bagaiamana cara memasukkan sesuap nasi saja ke dalam mulut kita, tidak mungkin tercapai tanpa adanya manajemen (tanzim). Contoh lain, coba anda bayangkan jika tidak ada bibit unggul, pabrik pupuk, perusahaan cangkul, perusahaan pestisida, pasar, dan seterusnya, Apakah mungkin nasi itu bisa mencukupi untuk seluruh bangsa Indonesia ini ? Jika sekedar untuk urusan perut saja membutuhkan sebuah manajemen (tanzim), apalagi dalam urusan iqamatuddin (menegakkan Islam) iqomatuldunya (membangun dunia).
Pengertian Manajemen
Untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, organisasi dakwah harus digerakan dengan sustu kegiatan yang dinamis yang disebut manajemen (managemant). Manajemen merupakan suatu proses kegiatan untuk mencapai suatu tujuan. Ia terdapat hampir dalam seluruh kegiatan manusia, baik di pabrik, kantor, sekolah, rumah sakit, hotel, panti asuhan, lembaga sosial, bahkan rumah tangga juga memerlukan manajemen. Oleh karena lembaga dakwah tidak akan terselenggara tanpa adanya manajemen. Suatu manajemen dilaksanakan dengan mengatur dan mengarahkan berbagai sumber daya yang dirumuskan menjadi 6M; Men (manusia), Money (uang), Material (barang), Machine (mesin), Method (metode), dan Market (pasar) untuk mencapai tujuan. Keseluruhan sumberdaya tersebut disebut unsur-unsur manajemen.1
__________________________
1Zaini Muchtarom.  Dasar-Dasar Menejemen Dakwah,  (Yogyakarta: Al-Amin Press, 1993) hal. 35.


2

           
            S. Wojowasito dan Tito Wasito .W,2 dalam Kamus Inggeris-Indonesia, Indonesia-Inggeris,  istilah menejemen, berasal dari bahasa Inggris, manage artinya (1) mengemudikan; (2) mengurus; (3) memerintah atau memimpin.. Dan management, artinya (1) pimpinan; (2) direksi; (3) pengurus.
Istilah Manajemen dalam Islam, disebut Tandzim, artinya pengaturan atau pengelolaan. Secara singkat manajemen dakwah, adalah Pengaturan tentang pelaksanaan dakwah. Jadi dakwah itu mesti dikelola secara baik dan benar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Moh. E. Ayub, Muhsin MK., dan Ramlan Mardjoned,3  dalam bahasa Inggris, istilah manajemen diartikan sama dengan managing. Dalam bahasa Indonesia, kata management (Inggris) diterjemahkan menjadi berbagai istilah, misalnya: (1) pengurusan;  (2) pengelolaan; (3) ketatalaksanaan; (4) kepemimpinan; (5) bimbingan; (6) pembinaan; (7) penyelenggaraan; dan (8) penanganan.
Zaini Muchtarom,4  menjelaskan bahwa manajemen dapat didefinisikan dengan berbagai rumusan bergantung cara pandang para ahli. Sementara pihak yang mendefinisikan manajemen sebagai “kekuatan yang menggerakan suatu usaha dan bertanggungjawab atas kesuksesan dan kegagalannya”. Oleh karena itu orang yang menggerakan suatu organisasi disebut manajer (manager). Yang lain menyatakan bahwa manajemen adalah “upaya untuk mencapai hasil yang diinginkan melalui usaha berkelompok dengan memanfaatkan kecakapan dan sumberdaya yang lain”. dan yang lainnya, memberikan definisi  bahwa management is getting things done through people (manajemen adalah membuat sesuatu terlaksana melalui orang lain). Bahkan definisi yang lebih singkat menyebutkan mangement is planning and implementing (manajemen ialah perencanaan dan pelaksanaan).
______________________
2S. Wojowasito danW.J.S. Purwadarmita S., Wojowasito dan Tito Wasito, Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, (Bandung:  Hasta, 2008), hal. 107.
3Zaini Muchtarom,  Dasar-Dasar Menejemen Dakwah, Ibid, hal. 36.
4Moh. E. Ayub, Muhsin MK., Ramlan Mardjoned, Manajemen Masjid, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hal. 3.


3


Manajemen berasal dari bahasa Inggris, yaitu: to manage, berarti mengatur, mengelola, melaksanakan, dan memperlakukan. Menurut George R. Terry, manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, serta penilaian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui sumberdaya manusia dan sumber-sumber lainnya.
Menurut Siagian, manajemen adalah suatu aktivitas menggerakan orang lain, suatu kegiatan memimpin atas dasar sesuatu yang telah diputuskan sedangkan menurut Jonson, manajemen adalah suatu proses untuk mengintegrasikan sumber-sumber yang tidak berhubungan menjadi sistem total untuk menyelesaikan suatu tujuan. Dan menurut Mamalik, manajemen adalah kekuatan utama dalam organisasi yang mengatur dan mengorganisasi kegiatan-kegiatan sub-sintem serta menghubungkannya dengan lingkungan.
Menurut RB. Khatib Pahlawan Kayo5 manajemen adalah kemampuan dan keterampilan seseorang untuk merencanakan, mengatur, dan mengelola serta mengawasi jalannya sustu kegiatan atau program, sehingga secara optimal dapat mencapai tujuan yang diinginkan dengan tepat waktu dan tepat sasaran.

a.      Fungsi dan Peranan Manajemen dalam Dakwah
Berbicara masalah manajemen tentunya tidak bisa lepas dengan komponen-komponen atau unsur-unsur manajemen yang ada dalam manajemen itu sendiri, yaitu planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (pergerakan) dan controlling (pengendalian), atau yang disingkat dengan POAC.
Keempat komponen tersebut akan uraikan satu persatu sebagai berikut:
a. Perencanaan (planning)
Planning atau perencanaan adalah keseluruhan proses dan penentuan secara matang tentang hal-hal yang akan dikerjakan di masa akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
____________________________
5RB. Khatib Palawan Kayo, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Amzah, 2007), hal. 17-18).
4


Ketika dikaitkan dengan sistem pendidikan dalam suatu organisasi kependidikan, maka perencanaan pendidikan menurut Vembriarto ST (1988 : 39) dapat didefiniskan sebagai penggunaan analisa yang bersifat rasional dan sistematis terhadap proses pengembangan pendidikan yang bertujuan untuk menjadikan pendidikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam menanggapi kebutuhan dan tujuan murid-murid serta masyarakat. Dalam perencanaan, yang harus diperhatikan ialah apa yang harus dilakukan ? dan siapa yang akan melakukannya. Jadi perencanaan disini berarti memilih sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa.
Perencanaan yang baik dapat dicapai dengan mempertimbangkan kondisi diwaktu yang akan datang dalam perencanaan dan kegiatan yang akan diputuskan akan dilaksanakan, serta periode sekarang pada saat rencana dibuat. Perencanaan merupakan aspek penting dari pada manajemen. Kepentingan merencanakan ini terletak pada kenyataan bahwa manusia dapat mengubah masa depan menurut kehendaknya. Manusia tidak boleh menyerah pada keadaan dan masa depan yang menentu tetapi menciptakan masa depan itu. Masa depan adalah akibat dari keadaan masa lampau, keadaan sekarang dan disertai dengan usaha-usaha yang akan kita laksanakan. Dengan demikian landasan dasar perencanaan adalah kemampuan manusia untuk secara sadar memilih alternatif masa depan yang dikehendakinya dan kemudian mengarahkan daya upayanya untuk mewujudkan masa depan yang dipilihnya dalam hal ini manajemen yang akan diterapkan seperti apa. Sehingga dengan dasar itulah maka suatu rencana itu akan terealisasikan dengan baik.     Adapun kegunaan perencanaan adalah sebagai berikut:
1.    Perencanaan meliputi usaha untuk memetapkan tujuan atau memformulasikantujuan yang dipilih untuk dicapai, maka perencanaan haruslah bisa membedakan point pertama yang akan dilaksanakan terlebih dahulu.
2.     Dengan adanya perencanaan maka memungkinkan kita mengetahui tujuan-tujuan yang akan kita raih.


5


3.   Dapat memudahkan dalam mengidentifikasi tentang hambatan-hambatan yang akan mungkin timbul dalam usaha mencapai tujuan.
b. Pengorganisasian (organizing)
Kegiatan administratif manajemen tidak berakhir setelah perencanaan tersusun. Kegiatan selanjutnya adalah melaksanaan perencanaan itu secara operasional. Salah satu kegiatan administratif manajemen dalam pelaksanaan suatu rencana disebut organisasi atau pengorganisasian.
Organisasi adalah sistem kerja sama sekelompok orang untuk mencapai tujuan bersama. Langkah pertama dalam pengorganisasian diwujudkan melalui perencanaan dengan menetapkan bidang-bidang atau fungsi-fungsi yang termasuk ruang lingkup kegiatan yang akan diselenggarakan oleh suatu kelompok kerjasama tertentu.
Keseluruhan pembidangan itu sebagai suatu kesatuan merupakan total sistem yang bergerak ke arah satu tujuan. Dengan demikian, setiap pembidangan kerja dapat ditempatkan sebagai sub sistem yang mengemban sejumlah tugas yang sejenis sebagai bagian dari keseluruhan kegiatan yang diemban oleh kelompok-kelompok kerjasama tersebut.
Pembagian atau pembidangan kerja itu harus disusun dalam suatu struktur yang kompak dengan hubungan kerja yang jelas agar yang satu akan mampu melengkapi yang lain dalam rangka mencapai tujuan. Struktur organisasi disebut “segi formal” dalam pengorganisasian karena merupakan kerangka yang terdiri dari satuan-satuan kerja atau fungsi-fungsi yang memiliki wewenang dan tanggung jawab yang bersifat hierarki / bertingkat. Diantara satuan-satuan kerja itu ditetapkan pula hubungan kerja formal dalam menyelanggarakan kerjasama satu dengan yang lain, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawabnya masing-masing. Disamping segi formal itu, suatu struktur organisasi mengandung kemungkinan diwujudkannya “hubungan informal” yang dapat meningkatkan efisiensi pencapaian tujuan.




6


Segi informal ini diwujudkan dalam bentuk hubungan kerja yang mungkin dikembangkan karena hubungan pribadi antar personal yang memikul beban kerja dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Satuan kerja yang ditetapkan berdasarkan pembidangan kegiatan yang diemban oleh suatu kelompok kerja sama, pada dasarnya merupakan pembagain tugas yang mengandung sejumlah pekerjaan sejenis. Oleh setiap itu, setiap unit kerja akan menggambarkan jenis-jenis aktivitas yang menjadi kewajibannya untuk diwujudkan. Wujud dari pelaksanaan organizing ini adalah tampaknya kesatuan yang utuh kekompakan, kesetiakawanan dan terciptanya mekanisme yang sehat, sehingga kegiatan lancar, stabil dan mudah mencapai tujuan yang ditetapkan.
c. Penggerakan (actuating)
Fungsi actuating merupakan bagian dari proses kelompok atau organisasi yang tidak dapat dipisahkan. Adapun istilah yang dapat dikelompokkan ke dalam fungsi ini adalah directing commanding, leading dan coordinating. Karena tindakan actuating sebagaimana tersebut di atas, maka proses ini juga memberikan motivating, untuk memberikan penggerakan dan kesadaran terhadap dasar dari pada pekerjaan yang mereka lakukan, yaitu menuju tujuan yang telah ditetapkan, disertai dengan memberi motivasi-motivasi baru, bimbingan atau pengarahan, sehingga mereka bisa menyadari dan timbul kemauan untuk bekerja dengan tekun dan baik.
b.      Kesimpulan
Fungsi dan peranan manajemen dalam aktifitas dakwah merupakan seatu hal yang sangat peting (dharuriy) dan tidak dapat ditawar-tawar lagi, jika dakwah yang lakukan ingin berhasil sesuai harapan dan tujuan yang telah ditetapkan.
Sehingga sebelum kita terjun ke medan dakwah, maka mesti memperhatikan terlebih dahulu prinsip-prinsip manajemen itu sendiri, yaitu planning (perencanaan) yang matang, organizing (pembagian tugas dakwah) sesuai dengan kapasitas dan keahliannya, actuating (gerakan dakwah) yang rapih, tertib serta memegang teguh etika dan moralitas dakwah dan controlling (evaluasi) seluruh kegiatan dakwah muali dari perencanaan samapi ketingkat pelaksanaannya.

Daftar Pustaka


Moh. E. Ayub, Muhsin MK., Ramlan Mardjoned, Manajemen Masjid, Jakarta: Gema Insani
            Press.
RB. Khatib Palawan Kayo, 2007. Manajemen Dakwah, Jakarta: Amzah.
S. Wojowasito danW.J.S. Purwadarmita S., Wojowasito dan Tito Wasito, 2008. Kamus Lengkap Inggris-Indonesia, Bandung: Hasta.
Zaini Muchtarom.  1993. Dasar-Dasar Menejemen Dakwah,  Yogyakarta: Al-Amin Press.