Kamis, 07 Mei 2015

“Friendship System” Sebagai Manajemen Dakwah Rasulullah SAW.



“Friendship System” Sebagai Manajemen Dakwah Rasulullah SAW.
Oleh : Drs. Ahmad Gojin, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan STID Sirnarasa Ciamis)

Berdasarkan fakta sejarah Islam, bahwa Rasulullah SAW. berdakwah selama kurang lebih 23 tahun, dan terbagi ke dalam dua periode, yaitu periode Makkah kurang lebih 13 tahun dan periode Madinah kurang lebih 10 tahun. Dakwah Nabi Muhammad SAW. di Mekah dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi saat itu. Dakwah tersebut dilakukan dengan dua tahapan, yaitu dengan cara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.
Pertama, Dakwah dengan Sembunyi-sembunyi.
Sesudah menerima wahyu yang kedua yang menjelaskan tugas atas diri beliau, mulailah beliau berdakwah dengan sembunyi-sembunyi dan mengajak keluarganya terdekat. Mereka ada yang tinggal satu rumah dan sahabat-sahabat terdekat. Secara bertahap, satu demi satu diberikan pemahaman agar mereka meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah Allah yang Maha Esa. Berikut nama-nama orang yang mula-mula beriman kepada Rasulullah SAW. di Mekah:
1.         Siti Khadijah (istri Rasulullah)
2.         Ali bin Abi Thalib (seorang pemuda), putra paman Rasulullah, Abu    Thalib
3.         Zaid bin Harisah (seorang budak), yang kemudian menjadi anak angkat Nabi
       Muhmmad SAW.
4.         Abu Bakar al-Sidiq (sahabat Rasulullah)
Melalui ajakan Abu Bakar, secara bertahap orang-orang memeluk Islam, antara lain Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bi Abi Waqas, Abdurahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, dan yang lainnya. Mereka digelari as-Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-rang yang lebih dahulu atau pertama-tama masuk Islam. Mereka mendapatkan pelajaran tentang Islam dari Rasulullah SAW. secara langsung di tempat kediaman rumah Arqam bin Abil Arqam di Mekkah.


Kedua, Dakwah Secara Terang-terangan
Nabi Muhammad melakukan dakwah bersifat fardiyah (pice to pice), yaitu ajakan untuk memeluk Islam secara sembunyi-sembunyi dan bertahap namun pasti mulai dari satu orang ke yang lainnya atau dari satu rumah ke rumah yang lain sekitar tiga tahun. Selama periode Makkah keberhasilan dakwah beliau tidak signifikan, bahkan tantangan dan ancaman pada periode ini sangat berat, baik terhadap beliau maupun para shahabatnya. Orang-orang Quraisy sudah mulai melakukan aksinya mengancam akan membunuh Rasul serta menyiksa sebagian para shahabat beliau dengan sangat kejamnya. Seperti yang dialami oleh Amar bin Yasar dan Bilal bin Rabah. Pada saat itulah situasi dan kondisi Mekkah sudah tidak lagi memungkinkan dan tidak lagi kondusip untuk dijadikan sebagai tempat berdakwah. Maka Allah memerintahkan Rasul untuk melaksanakan hijrah ke Madinah, pada saat itu bernama Yasrib. Maka Rasulullah SAW. mendatangi Abu Bakar As-Sidiq RA untuk membicarakan dan merencanakan hijrah.
Pada malam harinya, Rasullullah SAW bersama Abu Bakar, mulai membuat rencana dan merumuskan strategi untuk melaksanakan hijrah. Pada saat itu, langkah-langkah dan strategi yang dilakukan beliau adalah sebagai berikut;  pertama beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib RA. untuk tidur ditempat tidurnya, hal ini dilakukan untuk mengkelabui orang-orang Quraisy, kedua, berangkat hijrah pada siang hari pada saat itu orang kafir Quraisy sedang tidur, ketiga, memulai keluar berhijrah dari belakang rumah untuk menghindari pengamatan orang-orang, keempat, arah tujuan hijrah menuju ke gua Hira selama tiga hari, kelima, beliau menugaskan Asma binti Abu Bakar bertugas untuk mengirimkan konsumsi (makanan) (selama di gua Hira) setiap sore hari, keenam, Amir bin Fuhairah ditugaskan untuk menyamar sebagai pengembala kambing serta memberikan minuman susu kambing kepada Rasul dan Abu Bakar, dan ketujuh,  Abdullah bin Utayqith (orang musyrik) yang “dikontrak” ditugaskan sebagai petunjuk jalan menuju Medinah, kedelapan, rute perjalanan adalah kearah selatan menuju Yaman kemudian kearah Barat (pantai laut merah), selanjutnya kearah Utara pesisir laut, sampai akhirnya Rasul dan Abu Bakar singgah di tempat tujuan, yaitu Madinah.
Peristiwa hijrah singkat di atas, menggambarkan tentang pola dan strategi dakwah dengan menggunakan “Friendship System”. Artinya pola dakwah dengan menggunakan sistem perkawanan (kemitraan), kompetensi dan kapabilitas seseorang sesuai dengan keahliannya. Sebab kalau kita cermati, bagaimana Rasulullah SAW. sebelum melakukan perjalan hijrah ke Medinah, beliau menugaskan dan menggerakan beberapa orang shahabat dan yang lainnya yang dapat dipercaya sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya dengan tepat dan benar. Misalnya sebelum berangkat menuju Madinah, beliau menugaskan Ali bin Abi Thalib RA. untuk tidur ditempat tidurnya. Pertanyaannya, kenapa kepada Ali bin Abi Thalib RA. yang ditugaskan untuk itu ?  Sebab Ali bin Abi Thalib RA. adalah salah seorang pemuda yang cukup disegani dan juga untuk mengkelabui orang-orang Quraisy pada saat itu. Karena orang-orang Quraisy menyangka bahwa Rasul masih tidur. Maka sangat tepat Rasulullah SAW. mempercayakan tugas tersebut pada Ali bin Abi Thalib RA., sehingga orang-orang Quraisy tidak berani mengganggu saat Ali bin Abi Thalib RA sedang tidur ditempat tidur Rasul. Kemudian, Kenapa Rasul menugaskan mesti Asma binti Abu Bakar untuk mengirim makanan setiap sore hari kepada beliau di gua Hira ? Karena dia (Asma) adalah seorang wanita sholeh dan lugu, sehingga orang-orang Quraisy tidak akan curiga dan menganiayanya. Selanjutnya mengapa Rasul menugaskan Amir bin Fuhairah untuk menyamar sebagai mengembala kambing saat itu ?  karena dia (Amar) adalah orang bias dipercaya dari ucapan dan tindakanya. Dan terakhir Rasul menugaskan Abdullah bin Utayqith, yang padahal dia seorang musyrik ? sebab dia adalah salah satu orang musyrik yang hidup miskin dan dapat dipercaya, sehingga ia selalu bersedia untuk dipekerjakan oleh siapapun, asalkan diberikan imbalan yang selayaknya.
Dalam teori ilmu manajemen terdapat apa yang disebut dengan unsur-unsur manajemen, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), gerakan atau pelaksanaan (actuating) dan evaluasi (evaluating). Kalau kita korelasikan unsur-unsur manajemen tersebut dengan peristiwa hijrah Rasul, baik sebelum, sedang dalam proses maupun setelah sampai di Madinah. bagaimana beliau membuat perencanaan (planning) yang begitu matang dan menerapkan strategi yang tepat. Bagaimana Rasul membagi tugas (organizing) kepada orang-orang yang secara personal sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya masing-masing. Bagaimana Rasul, menggerakan orang (actuating) secara bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan terakhir, bagaimana Rasul menilai (evaluating) orang dapat bekerja dengan baik sesuai dengan instruksi beliau. Sehingga maksud dan tujuan Rasul berjalan dengan baik dan sukses sesuai dengan yang cita-citanya, yaitu hijrah ke Madinah. Dengan demikian, Rasul  telah berhasil menerapkan teori manajemen dengan sempurna. Maka dalam hal ini, Rasulullah adalah seorang “manajer” yang luar biasa, yang mungkin belum ada tandingannya pada saat itu. Dalam konteks ini, Rasul telah berhasil dan memiliki kemampuan menerapkan pola manajemen “Friendship System”. Yakni pola dakwah dengan membangun prinsip dan sistem yang sesuai dengan kemitraan yang pas, kompetensi orang sesuai ahlinya dan kapasitas dan kapabilats orang yang tepat. Sebab kalau tidak demikian, kemungkinan besar rencana dan tujuan Rasulullah SAW dan Abu Bakar Sidiq RA hijrah ke Madinah akan mengalami kegagalan sejak dari awal.
Oleh sebab itu, penerapan manajemen dakwah model“Friendship System” yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai alternatif atau paling tidak dijadikan sebagai acuan (parameter) bagi generasi muslim berikutnya,  terutama bagi para pelaku dakwah baik yang tergabung dalam organisasi maupun lembaga dakwah.
Pola dan strategi dakwah Nabi selama periode Makkah dan Madinah seperti di atas,  paling tidak terdapat tiga hal sebagai berikut:
1)      Community Resources, yaitu melakukan peenelitian terlebih dahulu secara cermat tentang potensi yang dimiliki masyarakat, baik masalah Sumber Daya Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA).
2)      Community Educator, yaitu melakukan penelitian terlebih dahulu secara cermat tentang tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat.
3)      Community Develover, yaitu melakukan penelitian terlebih dahulu secara cermat orientasi pembangunan (fisik dan psikis, jasmani dan rohani) masyarakat yang akan dikembangkan dan diberdayakan.
Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, segala persoalan yang dihadapi para juru dakwah sangat kompleks dan rumit. Dan pola manajemen dakwah yang dilakukan Nabi Muhamad SAW. terbukti berhasil. Dimana, pola tersebut  pada tataran implementasinya ketika seorang manejer dakwah akan menugaskan dan menggerakan para juru dakwah mesti melihat dan meneliti secara cermat terhadap kompetensi, kafasitas dan kafabilitas orang yang bersangkutan mesti diutamakan, supaya maksud dan tujuan yang cita-citakan dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan harapan.
Dengan demikian, dakwah Rasulullah SAW selama kurang lebih 23 tahun dibagi ke dalam dua periode, yaitu periode Makkah selama 13 tahun dan dan periode Madinah selama 10 tahun. Metode dakwah pada periode Makah terbagi pada dua tahap, yakni dakwah secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Pada periode ini, keberhasilan dakwahnya tidak signifikan. 
Sedangkan pada periode Madinah dakwah Islam mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kunci kesuksesan dakwah tersebut dikarenakan pola manajemen yang diterapkan Rasulullah (sebagai seorang manajer) dengan sangat baik dan sempurna. Maka hal ini menjadi bahan acuan bagi para juru dakwah di era modern seperti sekarang ini, baik yang tergabung dalam organisasi maupun lembaga dakwah. Jika seorang manajer dakwah tersebut memiliki kemampuan dalam mengelola (memenej) dengan baik dan benar serta menempatkan orang-orangnya dengan  tepat, sesuai dengan fungsi dan tanggung jawabnya masing-masing maka tingkat keberhasilan dakwah relatif lebih mudah diraih, sesuai dengan harapan dan target telah ditetapkan oleh istitusi dakwah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar