“Friendship System” Sebagai
Manajemen Dakwah Rasulullah SAW.
Oleh : Drs. Ahmad Gojin, M.Ag
(Penulis: Dosen UIN Bandung dan STID Sirnarasa Ciamis)
Berdasarkan fakta sejarah Islam, bahwa Rasulullah SAW. berdakwah
selama kurang lebih 23 tahun, dan terbagi ke dalam dua periode, yaitu periode
Makkah kurang lebih 13 tahun dan periode Madinah kurang lebih 10 tahun. Dakwah Nabi
Muhammad SAW. di Mekah dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi yang
dihadapi saat itu. Dakwah tersebut dilakukan dengan dua tahapan, yaitu dengan
cara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.
Pertama, Dakwah dengan Sembunyi-sembunyi.
Sesudah menerima wahyu yang kedua yang
menjelaskan tugas atas diri beliau, mulailah beliau berdakwah dengan
sembunyi-sembunyi dan mengajak keluarganya terdekat. Mereka ada yang tinggal
satu rumah dan sahabat-sahabat terdekat. Secara bertahap, satu demi satu
diberikan pemahaman agar mereka meninggalkan penyembahan berhala dan hanya
menyembah Allah yang Maha Esa. Berikut nama-nama orang yang mula-mula beriman
kepada Rasulullah SAW. di Mekah:
1.
Siti Khadijah (istri Rasulullah)
2.
Ali bin Abi Thalib (seorang
pemuda), putra paman Rasulullah, Abu Thalib
3.
Zaid bin Harisah (seorang budak),
yang kemudian menjadi anak angkat Nabi
Muhmmad SAW.
4.
Abu Bakar al-Sidiq (sahabat Rasulullah)
Melalui ajakan
Abu Bakar, secara bertahap orang-orang memeluk Islam, antara lain Utsman bin
Affan, Zubair bin Awwam, Saad bi Abi Waqas, Abdurahman bin Auf, Talhah bin
Ubaidillah, dan yang lainnya. Mereka digelari as-Sabiqunal Awwalun, yaitu
orang-rang yang lebih dahulu atau pertama-tama masuk Islam. Mereka mendapatkan
pelajaran tentang Islam dari Rasulullah SAW. secara langsung di tempat kediaman
rumah Arqam bin Abil Arqam di Mekkah.
Kedua, Dakwah Secara Terang-terangan
Nabi Muhammad
melakukan dakwah bersifat fardiyah (pice to pice), yaitu ajakan untuk
memeluk Islam secara sembunyi-sembunyi dan bertahap namun pasti mulai dari satu
orang ke yang lainnya atau dari satu rumah ke rumah yang lain sekitar tiga tahun.
Selama periode Makkah keberhasilan dakwah beliau tidak signifikan,
bahkan tantangan dan ancaman pada periode ini sangat berat, baik terhadap
beliau maupun para shahabatnya. Orang-orang Quraisy sudah mulai melakukan
aksinya mengancam akan membunuh Rasul serta menyiksa sebagian para shahabat
beliau dengan sangat kejamnya. Seperti yang dialami oleh Amar bin Yasar
dan Bilal bin Rabah. Pada saat itulah situasi dan kondisi Mekkah sudah
tidak lagi memungkinkan dan tidak lagi kondusip untuk dijadikan sebagai tempat
berdakwah. Maka Allah memerintahkan Rasul untuk melaksanakan hijrah ke Madinah,
pada saat itu bernama Yasrib. Maka Rasulullah SAW. mendatangi Abu Bakar
As-Sidiq RA untuk membicarakan dan merencanakan hijrah.
Pada malam harinya, Rasullullah SAW bersama Abu Bakar, mulai membuat
rencana dan merumuskan strategi untuk melaksanakan hijrah. Pada saat itu,
langkah-langkah dan strategi yang dilakukan beliau adalah sebagai berikut; pertama beliau memerintahkan Ali bin
Abi Thalib RA. untuk tidur ditempat tidurnya, hal ini dilakukan untuk
mengkelabui orang-orang Quraisy, kedua, berangkat hijrah pada siang hari
pada saat itu orang kafir Quraisy sedang tidur, ketiga, memulai keluar
berhijrah dari belakang rumah untuk menghindari pengamatan orang-orang, keempat,
arah tujuan hijrah menuju ke gua Hira selama tiga hari, kelima, beliau
menugaskan Asma binti Abu Bakar bertugas untuk mengirimkan konsumsi (makanan)
(selama di gua Hira) setiap sore hari, keenam, Amir bin Fuhairah ditugaskan
untuk menyamar sebagai pengembala kambing serta memberikan minuman susu kambing
kepada Rasul dan Abu Bakar, dan ketujuh, Abdullah bin Utayqith (orang musyrik) yang “dikontrak”
ditugaskan sebagai petunjuk jalan menuju Medinah, kedelapan, rute
perjalanan adalah kearah selatan menuju Yaman kemudian kearah Barat (pantai
laut merah), selanjutnya kearah Utara pesisir laut, sampai akhirnya Rasul dan
Abu Bakar singgah di tempat tujuan, yaitu Madinah.
Peristiwa hijrah singkat di atas, menggambarkan tentang pola dan
strategi dakwah dengan menggunakan “Friendship System”. Artinya pola
dakwah dengan menggunakan sistem perkawanan (kemitraan), kompetensi dan
kapabilitas seseorang sesuai dengan keahliannya. Sebab kalau kita cermati,
bagaimana Rasulullah SAW. sebelum melakukan perjalan hijrah ke Medinah, beliau
menugaskan dan menggerakan beberapa orang shahabat dan yang lainnya yang dapat
dipercaya sesuai dengan kapasitas dan kompetensinya dengan tepat dan benar.
Misalnya sebelum berangkat menuju Madinah, beliau menugaskan Ali bin Abi Thalib
RA. untuk tidur ditempat tidurnya. Pertanyaannya, kenapa kepada Ali bin Abi
Thalib RA. yang ditugaskan untuk itu ?
Sebab Ali bin Abi Thalib RA. adalah salah seorang pemuda yang cukup
disegani dan juga untuk mengkelabui orang-orang Quraisy pada saat itu. Karena
orang-orang Quraisy menyangka bahwa Rasul masih tidur. Maka sangat tepat
Rasulullah SAW. mempercayakan tugas tersebut pada Ali bin Abi Thalib RA.,
sehingga orang-orang Quraisy tidak berani mengganggu saat Ali bin Abi Thalib RA
sedang tidur ditempat tidur Rasul. Kemudian, Kenapa Rasul menugaskan mesti Asma
binti Abu Bakar untuk mengirim makanan setiap sore hari kepada beliau di gua
Hira ? Karena dia (Asma) adalah seorang wanita sholeh dan lugu, sehingga
orang-orang Quraisy tidak akan curiga dan menganiayanya. Selanjutnya mengapa
Rasul menugaskan Amir bin Fuhairah untuk menyamar sebagai mengembala kambing
saat itu ? karena dia (Amar) adalah
orang bias dipercaya dari ucapan dan tindakanya. Dan terakhir Rasul menugaskan
Abdullah bin Utayqith, yang padahal dia seorang musyrik ? sebab dia adalah
salah satu orang musyrik yang hidup miskin dan dapat dipercaya, sehingga ia
selalu bersedia untuk dipekerjakan oleh siapapun, asalkan diberikan imbalan
yang selayaknya.
Dalam teori ilmu manajemen terdapat apa yang disebut dengan
unsur-unsur manajemen, yaitu perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),
gerakan atau pelaksanaan (actuating) dan evaluasi (evaluating). Kalau
kita korelasikan unsur-unsur manajemen tersebut dengan peristiwa hijrah Rasul, baik
sebelum, sedang dalam proses maupun setelah sampai di Madinah. bagaimana beliau
membuat perencanaan (planning) yang begitu matang dan menerapkan
strategi yang tepat. Bagaimana Rasul membagi tugas (organizing) kepada
orang-orang yang secara personal sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya
masing-masing. Bagaimana Rasul, menggerakan orang (actuating) secara
bersama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan
terakhir, bagaimana Rasul menilai (evaluating) orang dapat bekerja
dengan baik sesuai dengan instruksi beliau. Sehingga maksud dan tujuan Rasul
berjalan dengan baik dan sukses sesuai dengan yang cita-citanya, yaitu hijrah
ke Madinah. Dengan demikian, Rasul telah
berhasil menerapkan teori manajemen dengan sempurna. Maka dalam hal ini, Rasulullah
adalah seorang “manajer” yang luar biasa, yang mungkin belum ada
tandingannya pada saat itu. Dalam konteks ini, Rasul telah berhasil dan
memiliki kemampuan menerapkan pola manajemen “Friendship System”. Yakni
pola dakwah dengan membangun prinsip dan sistem yang sesuai dengan kemitraan
yang pas, kompetensi orang sesuai ahlinya dan kapasitas dan kapabilats orang
yang tepat. Sebab kalau tidak demikian, kemungkinan besar rencana dan tujuan
Rasulullah SAW dan Abu Bakar Sidiq RA hijrah ke Madinah akan mengalami
kegagalan sejak dari awal.
Oleh sebab itu, penerapan manajemen dakwah model“Friendship
System” yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebagai alternatif atau paling
tidak dijadikan sebagai acuan (parameter) bagi generasi muslim berikutnya, terutama bagi para pelaku dakwah baik yang tergabung
dalam organisasi maupun lembaga dakwah.
Pola dan strategi dakwah Nabi selama periode
Makkah dan Madinah seperti di atas,
paling tidak terdapat tiga hal sebagai berikut:
1)
Community Resources, yaitu melakukan peenelitian terlebih dahulu secara cermat tentang potensi yang dimiliki masyarakat, baik masalah Sumber Daya
Manusia (SDM) maupun Sumber Daya Alam (SDA).
2)
Community Educator, yaitu melakukan penelitian terlebih dahulu secara cermat tentang tingkat pendidikan dan pengetahuan masyarakat.
3)
Community Develover, yaitu melakukan penelitian terlebih dahulu
secara cermat orientasi pembangunan (fisik dan psikis, jasmani dan rohani) masyarakat yang akan dikembangkan dan diberdayakan.
Apalagi di zaman modern seperti sekarang ini, segala persoalan yang dihadapi para juru
dakwah sangat kompleks dan rumit. Dan pola
manajemen dakwah yang dilakukan Nabi Muhamad SAW. terbukti berhasil. Dimana,
pola tersebut pada tataran
implementasinya ketika seorang manejer dakwah akan menugaskan dan menggerakan
para juru dakwah mesti melihat dan meneliti secara cermat terhadap kompetensi,
kafasitas dan kafabilitas orang yang bersangkutan mesti diutamakan, supaya
maksud dan tujuan yang cita-citakan dapat berjalan dengan baik dan sesuai
dengan harapan.
Dengan demikian, dakwah Rasulullah SAW selama kurang lebih 23 tahun
dibagi ke dalam dua periode, yaitu periode Makkah selama 13 tahun dan dan
periode Madinah selama 10 tahun. Metode dakwah pada periode Makah terbagi pada
dua tahap, yakni dakwah secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan.
Pada periode ini, keberhasilan dakwahnya tidak signifikan.
Sedangkan pada periode Madinah dakwah Islam mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Kunci kesuksesan dakwah tersebut dikarenakan pola manajemen yang
diterapkan Rasulullah (sebagai seorang manajer) dengan sangat baik dan
sempurna. Maka hal ini menjadi bahan acuan bagi para juru dakwah di era modern
seperti sekarang ini, baik yang tergabung dalam organisasi maupun lembaga
dakwah. Jika seorang manajer dakwah tersebut memiliki kemampuan dalam mengelola
(memenej) dengan baik dan benar serta menempatkan orang-orangnya dengan tepat, sesuai dengan fungsi dan tanggung
jawabnya masing-masing maka tingkat keberhasilan dakwah relatif lebih mudah diraih,
sesuai dengan harapan dan target telah ditetapkan oleh istitusi dakwah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar